Archive for March, 2011

March 29, 2011

Punggung Tidak Mulus

Mengapa punggung seperti berjerawat? Kadang malah terdapat seperti bisul. Apakah itu? Mengapa demikian?

Semua orang ingin memiliki kulit yang sehat. Pada sebagian orang, memiliki kulit punggung yang mulus menjadi impian. Namun sayangnya, pada banyak orang sering didapati keluhan punggung yang tidak mulus seperti berjerawat, bahkan kadang-kadang disertai bisul.  Keluhan tersebut pun muncul di daerah dada, bahkan sampai di daerah bahu dan lengan atas.

Benar, bisa jadi hal tersebut memang jerawat. Terjadinya jerawat di punggung sama seperti proses terjadinya jerawat di wajah. Jerawat biasanya muncul di daerah yang banyak memiliki kelenjar sebasea, yaitu wajah, leher, dada, punggung, bahu, lengan atas.

Kemungkinan lain adalah folikulitis atau radang folikel rambut yang disebabkan jamur Malasesia spp. yang tumbuh berlebihan di kulit. Gambarannya hampir serupa dengan jerawat, dan biasanya dapat disertai gatal. Lokasinya pun serupa dengan lokasi jerawat.

Untuk menghindari hal ini, yang perlu dilakukan antara lain:

  • Hindari penggunaan minyak (minyak zaitun, minyak kayu putih, minyak pijit, balsam, dll) atau pelembab   dengan bahan dasar minyak pada dada, leher, punggung, bahu, lengan atas
  • Hindari keringat berlebihan
  • Mandi secara teratur minimal 2x/hari menggunakan sabun
  • Ganti pakaian jika basah ataupun berkeringat untuk menghindari kelembaban

 

Jika sudah terdapat keluhan jerawat atau bisul pada dada, leher, punggung, bahu, lengan atas, berobatlah ke dokter spesialis kulit dan kelamin Anda untuk mendapatkan pengobatan lebih lanjut.  Seperti halnya jerawat pada wajah, kelainan seperti ini pada dada, leher, punggung, bahu, lengan atas seringkali meninggalkan bekas yang tidak diinginkan berupa bercak hitam maupun jaringan parut. Dada, leher, punggung, bahu, lengan atas memiliki risiko meninggalkan jaringan parut maupun keloid lebih besar dibandingkan wajah.

©dr. Maharani, SpKK

Advertisements
March 29, 2011

JERAWAT, bagaimana terjadinya?

Jerawat merupakan masalah yang pernah dialami oleh semua orang. Mengapa sampai terjadi jerawat? Bagaimana terjadinya jerawat?

Jerawat disebabkan oleh 4 faktor yang saling berkaitan. Faktor-faktor tersebut adalah:

  1. Produksi sebum yang berlebihan atau menjadi lebih kental sehingga memudahkan sebum tersumbat.
  2. Terjadi hiperkornifikasi (penebalan kulit ari) sehingga terjadi sumbatan sebum.
  3. Kolonisasi bakteri Propionibacterium acne yang berlebihan.
  4. Terjadi peradangan.

 

Sebum adalah lipid yang diproduksi oleh kelenjar sebasea (sebaceous gland)pada kulit. Produksi sebum dipengaruhi oleh hormon androgen. Hormon androgen ini meningkat kadarnya pada usia pubertas. Oleh karena itu, tidak heran pada usia pra remaja dan remaja dijumpai banyak keluhan jerawat. Selain itu, hormon androgen ini juga dipengaruhi oleh stres. Tingkat yang stres yang tinggi akan meningkatkan produksi sebum dan mempengaruhi kekentalannya.

 

Penebalan kulit ari atau hiperkornifikasi juga dipengaruhi oleh hormon androgen. Selain itu, pengaruh kotoran/debu, penggunaan kosmetik komedogenik (fondation, compact powder, dll) juga memperburuk sumbatan kulit. Kulit yang sehat perlu dicapai dengan memperbaiki regenerasi kulit dan memperbaiki struktur kulit ari (stratum korneum). Hal ini dicapai dengan pembersihan kulit secara tepat dan penggunaan krim/obat/prosedur untuk memperbaiki regenerasi kulit.

 

Kolonisasi kuman pada permukaan kulit memperburuk jerawat. Diperlukan pembersihan wajah yang benar dan pemberian obat yang sesuai untuk mengatasi hal ini. Hindari memegang wajah atau memencet jerawat untuk mengurangi risiko infeksi.

 

Peradangan akan menyebabkan jerawat menjadi bengkak, merah, dan terasa sakit. Peradangan jerawat yang berat akan menyebabkan kerusakan struktur kulit sehingga dapat menyebabkan jerawat meninggalkan bekas berupa kehitaman pada kulit, jaringan parut yang mencelong ke dalam maupun menonjol.

Walalupun  jerawat pernah dialami oleh semua orang, tidak semua orang mencari pertolongan dokter untuk mengatasinya. Jerawat, meskipun tidak mematikan, namun dampak negatif yang diakibatkan cukup besar, yaitu berupa rasa kurang percaya diri, rendah diri, menimbulkan stres, dsb. Hindari sembarang obat ataupun kosmetik untuk mencegah kondisi jerawat yang lebih buruk. Hindari pula penanganan jerawat yang tidak profesional yang tidak sesuai. Segeralah  berobat ke dokter spesialis kulit dan kelamin jika Anda memiliki keluhan jerawat untuk mendapat informasi dan pengobatan yang sesuai, serta menghindari bekas jerawat yang tidak diinginkan.

©dr. Maharani, SpKK

March 29, 2011

Kulit Tangan Kering, Keriput, dan Pecah-pecah

 

Kulit tangan yang kering, keriput, dan pecah-pecah, terutama pada jari-jari, sering dialami di antara kita. Pada awalnya kulit dirasakan kering, namun belum dikeluhkan karena tidak terlalu mengganggu. Lama-kelamaan kulit menjadi semakin kering sehingga nampak keriput dan pecah-pecah yang menyebabkan rasa perih.

Kulit tangan yang kering, keriput, dan pecah-pecah dapat disebabkan oleh beberapa sebab, di antaranya:

  • Kontak dengan bahan kimia kuat (misalnya bahan kimia industri, obat pengeriting rambut,  dll)
  • Kontak dengan bahan kimia lemah namun terpajan dalam jangka waktu yang lama atau frekuensi yang sering (sabun pencuci piring, deterjen, obat pembersih lantai, sabun cuci tangan, dll)
  •  Terlalu sering kontak dengan air
  •  Kontak dengan getah tanaman/sayuran

 

Untuk menghindari hal tersebut, hal yang dapat dilakukan sebagai berikut:

  • Menggunakan alat pelindung diri ketika bekerja (sesuai dengan bahan yang dianjurkan) atau menggunakan sarung tangan karet untuk melakukan pekerjaan rumah tangga.
  •  Alat pelindung diri dibersihkan setelah digunakan, kemudian dikeringkan.
  • Gunakan selalu alat pelindung diri yang bersih.
  • Jika alat pelindung diri rusak, harus diganti.
  • Cuci tangan setelah kontak dengan bahan kimia menggunakan air hingga bersih.
  • Gunakan pembersih tangan (handwash) yang bebas sabun (soap free).
  • Keringkan tangan dengan baik setelah kontak dengan air.
  • Gunakan pelembab sesering mungkin.

 

Jika kulit tangan telah menunjukkan gambaran kering dan keriput, keluhan tersebut dapat diatasi dengan melakukan saran tersebut di atas. Penggunaan pelembab sangat dianjurkan untuk mengembalikan kelembaban kulit. Namun jika keluhan belum berkurang setelah beberapa hari, sebaiknya Anda mengunjungi dokter spesialis kulit dan kelamin untuk mendapat pengobatan lebih lanjut.

Jika kulit tangan sudah pecah-pecah dan terasa perih atau sakit, segera berobat ke dokter spesialis kulit dan kelamin Anda untuk mendapat pengobatan yang sesuai. Mungkin Anda memerlukan pengobatan lebih lanjut jika terdapat luka yang terinfeksi atau keadaan lain yang memerlukan obat tertentu.

©dr. Maharani, SpKK

March 23, 2011

Imunisasi dan Vaksinasi Anak

Tubuh kita memiliki berbagai mekanisme untuk melawan kuman yang masuk ke dalam tubuh. Salah satunya adalah dengan membentuk antibodi, yaitu zat khusus yang diproduksi untuk melawan kuman.

Imunisasi dan vaksinasi bertujuan untuk meningkatkan kekebalan tubuh seseorang, sehingga dapat mencegah terjadinya penyakit tertentu. Perlu diketahui bahwa vaksinasi dan imunisasi tidak melindungi 100%, tetapi dapat memperkecil risiko tertular dan membuat penyakit/dampaknya menjadi lebih ringan bila tertular. Kekebalan ini dapat diperoleh dengan pemberian antibodi secara pasif, atau pemberian antigen untuk merangsang pembentukan antibodi di dalam tubuh. Antigen maksudnya suatu bagian dari kuman atau kuman yang telah dilemahkan, yang tidak cukup untuk menimbulkan sakit tetapi cukup untuk merangsang pembentukan antibodi. Dalam lingkup yang lebih luas, imunisasi dapat menghilangkan penyakit tertentu pada suatu kelompok masyarakat bahkan sampai tingkat dunia. Misalnya saja penyakit cacar variola yang telah berhasil dimusnahkan dari seluruh dunia berkat imunisasi.

Imunisasi dan vaksinasi umumnya diberikan melalui suntikan, namun ada juga yang diberikan melalui cara lain misalnya vaksinasi polio yang dilakukan dengan pemberian tetesan vaksin melalui mulut.

Dalam rekomendasi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), imunisasi dibagi menjadi dua golongan, yaitu imunisasi yang diwajibkan (Program Pengembangan Imunisasi/PPI) dan imunisasi yang dianjurkan (Non PPI).

Berikut ini jadwal imunisasi berdasarkan rekomendasi IDAI.

Selanjutnya akan dijelaskan secara lebih rinci mengenai masing-masing imunisasi tersebut.

 

Vaksinasi yang diwajibkan (PPI):

  • BCG (Bacille Calmette-Guerin)

Vaksin BCG dibuat dari bakteri penyebab tuberkulosis. Tuberkulosis atau TBC adalah penyakit infeksi terutama menyebabkan penyakit di paru-paru, tetapi dapat juga menyebabkan infeksi di bagian tubuh lain seperti kulit, kelenjar getah bening, tulang, otak, perut, mata, hati, ginjal, dan jantung.

Vaksin BCG tidak mencegah infeksi tuberkulosis, namun dapat mencegah komplikasinya yang berbahaya seperti radang selaput otak. Imunisasi dilakukan satu kali dengan penyuntikan di daerah lengan atas kiri.

Kurang lebih 3 minggu setelah vaksinasi, pada tempat penyuntikan akan timbul luka yang akan sembuh setelah 2-3 bulan dan meninggalkan jaringan parut bulat. Cara penanganan luka ini akan dijelaskan kemudian pada bagian “Efek Samping Imunisasi dan Cara Menanganinya”.

  • Hepatitis B

Hepatitis B adalah radang kronik pada hati. Penularan virus hepatitis B dapat terjadi melalui kontak cairan tubuh, seperti melalui jarum suntik, transfusi darah, atau hubungan seksual. Vaksin hepatitis B berguna untuk mencegah penularan hepatitis B. Vaksinasi dilakukan melalui suntikan sebanyak tiga kali dengan interval sesuai yang tertera pada jadwal.

  • Polio

Virus polio menyebabkan penyakit lumpuh layu dengan gejala kelumpuhan.

Vaksinasi polio dapat berupa cairan yang diberikan dengan cara diteteskan pada mulut, dapat juga diberikan melalui suntikan.

  • DPT (Difteria, Pertusis, Tetanus)

Difteria adalah kuman yang menyebabkan infeksi di saluran napas atas. Pada infeksi difteri, pada saluran napas terbentuk suatu selaput yang dapat berbahaya karena kemungkinan menyumbat jalan napas. Bakteri ini juga menghasilkan toksin yang mampu melumpuhkan otot, termasuk otot jantung, sehingga dapat menimbulkan kematian. Angka kematian akibat difteri sangat tinggi.

Pertusis atau batuk rejan juga merupakan infeksi yang menyerang saluran napas. Angka kematian akibat penyakit ini juga sangat tinggi.

Tetanus merupakan penyakit berupa kekakuan pada otot. Jika kekakuan otot terjadi pada otot pernapasan, maka akan terjadi henti napas yang dapat menyebabkan kematian.

  • Campak

Campak adalah penyakit yang sangat mudah ditularkan melalui udara. Penyakit ini ditandai dengan demam, batuk pilek, mata merah, dan timbul rash (kemerahan) pada kulit. Campak dapat menimbulkan komplikasi radang paru-paru (bronkopneumonia) dan radang otak, dengan angka kematian yang cukup tinggi.

 

Vaksinasi yang disarankan / Non PPI (tidak wajib diberikan namun penting diberikan, dengan memperhatikan indikasi pemberiannya):

  • Hib (Haemophillus influenza tipe b)
  • Pneumokokus
  • Influenza
  • MMR (Measles, Mumps, Rubella) – Campak, gondongan/parotitis, rubella
  • Tifoid
  • Hepatitis A
  • Varisela
  • HPV

 

EFEK SAMPING IMUNISASI DAN CARA MENANGANINYA

Setelah imunisasi dapat timbul suatu reaksi, baik lokal di tempat suntikan maupun umum di seluruh tubuh. Reaksi tersebut umumnya ringan, mudah diatasi, dan dapat hilang sendiri dalam jangka waktu satu sampai dua hari. Selain reaksi yang lazim terjadi, dapat pula terjadi reaksi alergi pada anak-anak yang rentan (memiliki ‘bakat’ alergi). Reaksi yang berat dan tidak terduga mungkin juga terjadi, tetapi frekuensinya jarang. Jika sampai terjadi reaksi yang serius, orangtua pasien diharapkan untuk melapor dan meminta pertolongan ke tempat dilakukannya imunisasi itu. Semua reaksi-reaksi akibat imunisasi ini disebut sebagai Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI).

Memang tidak ada vaksin yang benar-benar ideal tanpa efek samping sama sekali, namun tidak perlu ragu untuk melakukan imunisasi pada anak-anak kita karena kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi sampai saat ini telah menghasilkan vaksin yang efektif dan relatif aman.

Reaksi lokal imunisasi biasanya berupa kemerahan, bengkak, serta gatal atau nyeri pada tempat bekas suntikan. Reaksi ini dapat diatasi/dikurangi dengan memberikan kompres dingin. Kadang-kadang dapat teraba benjolan kecil yang agak keras selama beberapa minggu atau lebih. Umumnya tidak diperlukan tindakan apa pun untuk benjolan tersebut. Khusus untuk imunisasi BCG, kurang lebih 2-6 minggu setelah imunisasi dapat timbul bisul kecil di tempat bekas suntikan. Bisul ini akan semakin membesar dan menjadi luka dalam 2-4 bulan, kemudian menyembuh perlahan dengan meninggalkan jaringan parut. Luka yang mengeluarkan cairan dapat dikompres dengan cairan antiseptik, misalnya larutan povidone iodine, PK, atau Rivanol. Bila cairan luka semakin banyak atau koreng semakin membesar, orangtua harus mengkonsultasikannya dengan dokter.

Reaksi umum yang banyak terjadi adalah demam yang biasanya tidak tinggi. Pasca imunisasi DPT demam dapat tinggi dan anak menjadi rewel. Jika terjadi demam, anak sebaiknya dipakaikan pakaian yang tipis. Jika demam di atas 38.5°C, dapat diberikan Paracetamol dengan dosis yang disesuaikan dengan berat badan anak (10-15mg/kgBB) setiap 4-8 jam. Anak boleh mandi atau cukup diseka dengan air hangat.

Reaksi lain dapat berupa mual dan nyeri sendi. Dalam 5-12 hari setelah vaksinasi campak dan MMR dapat terjadi demam yang tidak tinggi, timbul rash tipis (kemerahan halus/tipis pada kulit) yang tidak menular, serta pilek.

Setelah imunisasi anak dianjurkan untuk minum lebih banyak (ASI atau air buah).

 

© dr. Ratih Puspita